Wednesday, July 20, 2016

Wow… Umur 10 Tahun Sudah Taklukkan Lima Gunung Tertinggi di Indonesia



Anak ini perlu menjadi inspirasi banyak anak lain di tanah air. Meski baru berumur 10 tahun, Khansa Syahlaa telah menaklukkan lima dari tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Lima gunung tersebut adalah Semeru, Latimojong, Kerinci, Binaiya, dan Rinjani.
Khansa mengawali hobinya dengan mendaki gunung semeru saat masih berusia 7 tahun. Saat lebaran 2016 Khansa tidak meminta baju baru kepada orang tuanya, yang dia inginkan adalah naik Gunung Binaiya dan Rinjani.
“Lebaran, aku tidak usah dibeliin baju. Aku mau naik Gunung Binaiya sama Rinjani,” ujar Aulia Ibnu Sina saat menirukan gaya berbicara anaknya kepada KompasTravelSelasa (20/7/16).
Mendaki puncak-puncak tertinggi di Indonesia bukanlah tantangan kecil bagi Khansa. Saat mendaki Gunung Binaiya di Pulau Seram misalnya, Khansa sempat mengalami luka dan kutu air karena hujan yang mengguyur selama dua hari.

Monday, July 18, 2016

NU Berkepentingan Menjaga Kondisi Turki Tetap Aman



Nahdlatul Ulama sangat berkepentingan terhadap kondisi keamanan Turki mengingat di negeri yang berada di dua benua ini, Asia dan Eropa, banyak tersimpan artefak-artefak penting sejarah perkembangan Islam seperti stempel yang digunakan Rasulullah, rambut Rasulullah, dan benda-benda bersejarah yang tak ternilai harganya yang tersimpan di berbagai museum. Pergantian kekuasaan, bisa saja menyebabkan benda-benda tersebut dihancurkan sebagaimana yang terjadi di Saudi Arabia yang memusnahkan banyak sekali benda-benda bersejarah. 

Hal tersebut disampaikan Sekjen PBNU, H. Helmy Faishal Zaini disela-sela diskusi Taswirul Afkar, dengan tema Kudeta Turki, Transisi atau Konspirasi, yang berlangsung di perpustakaan Gedung PBNU, Senin (18/7).

Friday, July 15, 2016

GP Ansor Kutuk Keras Serangan Pada Perayaan Nasional di Prancis



  

Selain menyatakan bela sungkawa yang mendalam, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) juga mengutuk serangan yang menewaskan lebih dari 70 warga prancis pada perayaan nasional Prancis (Fête Nationale) di Promenade des Anglais, di Nice, Prancis, Kamis 14 Juli 2016. 

   Sebagaimana dilansir nu.or.id, GP Ansor mengutuk keras serangan teror itu sebagai serangan bukan hanya pada nilai-nilai republikan Prancis, tetapi juga pada nilai-nilai Islam yang luhur dan menjunjung tinggi perdamaian abadi yang dilandasi semangat ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan berdasar kemanusiaan) yang dilandasi sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (menjaga keseimbangan dan keselarasan).

MAGNET PEMILU (1)




Selalu menarik, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan panggung pemilu yang sedianya digunakan sebagai momentum memilih Bupati, Gubernur, Presiden dan juga DPR. Betapa tidak, banyak sekali perangkat pemilu yang selalu menyita perhatian kita. Mulai dari aturan, calon, kendaraan, penyelenggara, tim sukses dan masyarakat (pemilih), yang dari pemilu ke pemilu menunjukkan fenomena yang selalu berubah, namun dapat dikatakan perubahan tersebut berada pada ruang yang sama.
Perjuangan berat kita hari ini bukan lagi mengajak masyarakat untuk melek pemilu. Bukan lagi soal mengajak masyarakat datang ke bilik suara. Hampir setiap masyarakat hari ini tau persis apa itu pemilu, dan kapan waktu datang ke bilik suara, tentu diluar dari masyarakat yang masuk dalam kategori pemiih pemula. Namun yang ingin saya katakan, masih rendahnya angka partisipasi pemilih dari pemilu ke pemilu bukan an sich persoalan sosialisasi yang dilakukan oleh KPU dan jajarannya, namun juga karena factor lain, termasuk calon, partai politik dan juga peraturan yang melingkupi, yang dari pemilu ke pemilu selalu berubah. 
Dari pengalaman KPU yang sudah bertahun-tahun menggeluti partisipasi pemilih, mereka sebetulnya tidak terlalu terbabani untuk mengenalkan masyarakat tentang pemilu, apalagi hari ini banyak tim sukses yang siap sedia menjemput, menghadirkan calon pemilih pada suatu lokasi yang disebut kampanye. Kampanye hari ini tidak hanya kampanye akbar dilokasi strategis dengan bendera, spanduk dan baliho. Hari ini calon diberikan keleluasaan untuk datang ke rumah penduduk, menemui kelompok dan komunitas, dengan jumlah yang terbatas. Terlebih lagi mobilisasi pemilih pun dalam UU yang kita gunakan hari ini bukan suatu yang haram. Maka dapat dikatakan bukan sebuah persoalan yang krusial bagi KPU untuk mensosialisasikan pemilih untuk datang ke TPS. Terlebih lagi, dari pandangan penulis, yang dapat mendongkrak partisipasi pemilih adalah juga calon sendiri.